Nostalgia Piala Dunia: Kisah Ahn Jung-hwan, Pahlawan di Korsel, Dipecat di Italia

Nostalgia Piala Dunia: Kisah Ahn Jung-hwan, Pahlawan di Korsel, Dipecat di Italia

Jumpabola.com РPiala Dunia 2002 yang digelar pada Korea Selatan dan Jepang menyisakan banyak cerita. Salah satu yang menarik adalah kisah Ahn Jung-hwan yang menjadi pahlawan tuan rumah Korsel. Bagaimana ceritanya?

Adalah Luciano Gaucci yang menjadi aktor dari kisah kontroversial karena keputusannya ketika Piala Dunia 2002 berlangsung. Gaucci sendiri merupakan seorang presiden klub.

taboola mid article

Tindakan paling gila yang dilakukan Presiden klub Perugia itu adalah memecat pemainnya asal Korea Selatan, Ahn Jung-hwan. Penyebabnya karena Jung-hwan mencetak gol ke gawang Italia pada babak 16 besar Piala Dunia 2002 yang membuat Azzuri tersingkir.

Selama 10 tahun menjadi pemilik Perugia, Gaucci banyak melakukan tindakan kontroversial. Dia pernah merekrut putra diktator Libya Muammar al-Gaddafi hingga mencoba menugaskan pemain wanita ke tim utama Perugia.

Namun, tindakan yang paling terkenal dan diketahui publik dia lakukan pada Juni 2002, yakni memecat pemain Perugia Ahn Jung-hwan saat Piala Dunia 2002.

Pertandingan Dramatis

 

Ahn gabung Perugia dengan status pinjaman selama dua tahun dari klub Korea Daewoo Royals pada musim panas 2000. Dia menjadi pemain kedua asal Asia yang direkrut klub berjuluk Umbria tersebut, setelah Hidetoshi Nakata (Jepang).

Namun, Ahn Jung-hwan tidak bermain sebagus Hidetoshi Nakata selama dua musim di Renato Curi. Dia hanya mencetak 5 gol dari 33 penampilannya dan kalah produktif dari Marco Materazzi, Fabio Liverani, hingga Fabio Grosso.

Meski demikian Ahn Jung-hwan tetap mendapat kepercayaan tampil di Piala Dunia 2002 bersama Korea Selatan. Apalagi saat itu, Korea Selatan bertindak sebagai tuan rumah bersama dengan Jepang.

Korea Selatan kemudian melaju ke babak 16 besar dan berjumpa dengan negara tempat Ahn Jung-hwan meniti karier, yakni Italia. Di awal laga, penalti Ahn Jung-hwan gagal karena mampu di tepis Gianluigi Buffon.

Bahkan, Italia tampaknya akan melenggang ke perempat final berkat gol Christian Vieri di menit ke-18. Namun, dua menit jelang pertandingan berakhir, Korea Selatan mampu menyamakan kedudukan berkat gol Seol Ki-hyeon.

Penuh Kontroversi

Laga akhirnya berlanjut ke perpanjangan waktu setelah di waktu reguler kedua tim berimain imbang 1-1. Di babak perpanjangan waktu ini, banyak kontroversi yang terjadi.

Pemain Italia, Francesco Totti, mendapat kartu merah karena wasit menganggapnya diving. Gol Italia dari Damiano Tommasi dianulir wasit karena offside.

Beberapa menit setelahnya, sundulan Ahn Jung-hwan sukses menjebol gawang Gianluigi Buffon. Italia akhirnya tersingkir karena saat itu masih menggunakan sitem golden goal atau gol emas.

Setelah pertandingan dramatis dan sejumlah pihak menganggap banyak hal kontroversi, keputusan aneh dibuat presiden Perugia. Gaucci memutuskan tidak mau menerima Ahn Jung-hwan kembali ke Italia.

Gaucci Marah Besar

Sebenarnya, Perugia sudah memilih opsi untuk mempermanenkan Ahn Jung-hwan sebelum Piala Dunia 2002. Namun Gucci membuang belasan miliar rupiah karena memecat Ahn Jung-hwan.

“Pria itu tidak akan pernah menginjakkan kaki di Perugia lagi,” katanya melansir Gazzetta dello Sport. “Dia adalah fenomena hanya ketika dia bermain melawan Italia,” lanjutnya.

“Saya seorang nasionalis dan saya menganggap perilaku seperti itu tidak hanya sebagai penghinaan terhadap kebanggaan Italia tetapi juga pelanggaran terhadap negara yang dua tahun lalu membuka pintunya baginya,” ungkap Gaucci.

“Saya tidak berniat membayar gaji kepada seseorang yang telah merusak sepak bola Italia,” sambungnya.

Menolak Minta Maaf

Sementara itu, pelatih Korea Selatan Guus Hiddink menuduh Gaucci bersifat kekanak-kanakan karena memecat Ahn. Padahal pelatih Perugia Serse Cosmi sudah mendesak Presiden untuk mempertimbangkan kembali pemecatan pemain berusia 26 tahun itu.

Cosmi sudah menjelaskan kepada Gaucci bahwa Ahn memiliki potensi sebagai pemain besar. Meski demikian, Gaucci bersekeras dengan keputusannya dan menolak meminta maaf.

“Itu tidak ada hubungannya dengan gol yang dia cetak melawan Italia. Dia bisa mencetak 10 dan saya tidak akan merasa tersinggung,” ungkap Gaucci.

“Itu hanya komentar yang dia buat. Dia mengatakan sepak bola Korea lebih unggul daripada sepak bola Italia, meski Italia adalah negara sepak bola.”

“Kami telah memperlakukannya dengan baik dengan semua cinta kami, tetapi komentarnya menyinggung saya dan seluruh bangsa Italia. Saya merasa tersinggung dengan apa yang dia katakan. Dia harus menghormati bangsa lain dan juga negaranya sendiri,” sambungnya.

FIFA Menengahi

FIFA berusaha menjadi penengah. Namun pihak Ahn dan Perugia tetap mempertahankan keyakinan masing-masing.

Perugia sempat mengalah dengan menawari Ahn kontrak tiga tahun. Namun Ahn Jung-hwan menolak tawaran yang terlambat itu.

“Dia tidak akan pernah bermain lagi untuk Perugia,” ujar agen Ahn Jung-hwan. “Kami tidak akan pernah mempertimbangkan transfernya ke Perugia, yang memicu pembunuhan karakter terhadap Ahn hanya karena dia mencetak gol melawan Italia,” lanjutnya.

“Ahn Jung-Hwan tidak ingin kembali ke Perugia dan Perugia tidak memiliki hak untuk menuntut dia kembali. Saya mengirim pesan ke Perugia kemarin untuk menyatakan posisi kami. Orang Korea tidak ingin Ahn kembali ke Perugia,” tutupnya.

Akhir Karier

Perugia memang dalam posisi tersudut dengan argumen bahwa Ahn Jung-hwan tidak pernah bermain selama empat bulan sebelum Piala Dunia 2002. Hingga akhirnya Ahn Jung-hwan tidak kembali ke Perugia maupun Italia.

Usai kasus tersebut, Ahn Jung-hwan sempat berpindah-pindah klub. Mulai dari bermain di Liga Jepang, kemudian di dua klub kecil Eropa yakni Metz dan Duisburg, lalu kembali ke Liga Korea.

Sementara itu, Gaucci meninggalkan Perugia pada 2005. Dia bahkan sempat melarikan diri ke Republik Dominika setelah dakwaan kebangkrutan palsu.

Dia meninggal pada Februari 2020 di usia 81 tahun. Tetapi dia juga seorang pelopor, menjadikan Carolina Morace sebagai pelatih wanita pertama di dunia untuk menangani tim pria profesional di Viterbese pada tahun 1999.